Wayang Wong Sriwedari

Wayang

Dalam bahasa Jawa, wayang berarti “bayangan”. Sedangkan jika ditinjau dari arti filsafatnya, wayang dapat disebutkan sebagai bayangan atau pencerminan dari sifat-sifat yang ada pada diri manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah dan lainnya. Sebagai alat yang digunakan untuk memperagakan cerita, wayang dimainkan oleh seorang dalang yang dibantu beberapa penabuh gamelan dan satu atau dua orang warangga sebagai vokalisnya. Disamping itu, seorang dalang kadang-kadang juga mempunyai pembantu khusus untuk dirinya, yang bertugas mengatur wayang sebelum permainan dimulai, serta mempersiapkan tokoh-tokoh wayang yang dibutuhkan selama pementasan.

Dalang di sini difungsikan sebagai pengatur jalannya pertunjukan secara keseluruhan. Dialah yang memimpin semua crewnya untuk luluh ke dalam alur cerita yang disajikan. Selain mendalami tentang penanaman tokoh dalam perwayangannya, seorang dalang juga harus mengerti tentang lagu. Dikarenakan, selain isi cerita, keserasian antara dalang dan para crew haruslah ada. Maka, daripada itu kekompakan sangat dibutuhkan.

Ada beberapa batasan yang dimiliki seorang dalang dalam menentukan lakon wayang yang akan dimainkan, beberapa faktor diantaranya ialah; jenis wayang yang dipergunakan sebagai alat peraga; kepercayaan masyarakat sekitarnya, serta keperluan diadakannya pertunjukan tersebut. Salah satu jenis wayang ialah wayang wong atau wayang orang.

Pengertian Wayang Wong

Wayang Wong adalah salah satu jenis teater tradisional Jawa yang merupakan gabungan antara seni drama yang berkembang di Barat dengan pertunjukan wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa. Jenis kesenian ini pada mulanya berkembang terutama di lingkungan kraton dan kalangan para priyayi (bangsawan) Jawa (R.M Soedarsono:1984,1990:4).

Wayang Wong sebuah pertunjukan seni tari drama dan teater yang mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata sebagai induk ceritanya. Wayang Wong yang digolongkan ke dalam bentuk drama seni tari tradisional. Sebutan Wayang berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti bayangan. Wayang Wong adalah sebuah pertunjukan Wayang yang pelaku-pelakunya dimainkan oleh manusia. Seni pertunjukkan Wayang Wong pada masing-masing daerah memiliki gaya tersendiri, baik Surakarta maupun Yogyakarta.

Menilik dari sejarah seni pertunjukan budaya Jawa, mayoritas naskah Wayang Wong dipengaruhi oleh kisah Mahabharata dan Ramayana dari India yang telah berbaur dengan budaya lokal, dengan kisah Mahabharata yang lebih sering digunakan. Mahabhrata memiliki inti cerita seputar konflik antara Pandawa dan Kurawa mengenai sengketa pemerintahan Negara Astina yang puncaknya terjadi pada perang Bharatayudha. Mahabharata mulai populer di Jawa sekitar abad 10 masehi pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kediri. Lalu berkembang semakin populer dalam bentuk Kakawin atau bentuk puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa kuno. Pencipta kakawin yang paling terkenal adalah Mpu Sedah dalam karya Bharatayudha yang ditujukan sebagai persembahan kepada Prabu Jaya Baya diakhir pemerintahannya. Kisah Mahabharata ini mengilhami terciptanya beragam jenis kesenia daerah jawa seperti seni arsitektur yang terlihat pada candi, seni tari seni lukis, dan pertunjukan. Sumber-sumber Mahabharata diera kerajaan Jawa kuno banyak ditulis di daun lontar yang berisi tentang filosofi-filosofi kehidupan sosio-budaya-politik masyarakat Jawa.

Pertama kali, Wayang Wong itu dipentaskan secara terbatas pada tahun 1760. Namun, baru pada pemerintahan Mangkunegara V pertunjukan Wayang Wong itu lebih memasyarakat, walaupun masih tetap terbatas dinikmati oleh kerabat keraton dan para pegawainya. Pemasyarakatan seni Wayang Wong hampir bersamaan waktunya dengan lahirnya drama tari Langendriyan. Pada masa pemerintahan Mangkunegara VII (1916 -1944) kesenian Wayang Wong mulai diperkenalkan pada masyarakat di luar tembok keraton. Usaha memasyarakatkan kesenian ini makin pesat ketika Sunan Paku Buwana X (1893-1939) memprakarsai pertunjukan Wayang Wong bagi masyarakat umum di Balekambang, Taman Sriwedari, dan di Pasar Malam yang diselenggarakan di alun-alun. Para pemainnya pun, bukan lagi hanya para abdi dalem, melainkan juga orang-orang di luar keraton yang berbakat menari.

Penyelenggaraan pertunjukan Wayang Wong secara komersial baru dimulai pada tahun 1922. Mulanya, dengan tujuan mengumpulkan dana bagi kongres kebudayaan. Kemudian pada tahun 1932, pertama kali Wayang Wong masuk dalam siaran radio, yaitu  Solosche Radio Vereeniging, yang mendapat sambutan hebat dari masyarakat.Wayang Wong juga menyebar ke Yogyakarta. Pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII (1877 -1921) keraton Yogyakarta dua kali mempergelarkan pementasan Wayang Wong untuk tontonan kerabat keraton. Waktu itu lakonnya adalah Sri Suwela dan Pregiwa – Pregiwati. Wayang Wong di Yogyakarta ini disebut Wayang Wong Mataraman.

Pakaian para penari Wayang Wong pada awalnya masih amat sederhana, tidak jauh berbeda dengan pakaian adat keraton sehari-hari, hanya ditambah dengan selendang tari. Baru pada zaman Mangku­negara VI (1881-1896), penari Wayang Wong mengenakan irah-irahan terbuat dari kulit ditatah apik, kemudian disungging dengan perada. Sejalan dengan perkembangan Wayang Wong. terciptalah gerak-gerak tari baru yang diciptakan oleh para seniman pakar tari keraton. Gerak tari baru itu antara lain adalah sembahan, sabetan, lumaksono. ngombak banyu, dan srisig.

Karena ternyata kesenian Wayang Wong mendapat sambutan hangat dari masyarakat, bermun­culanlah berbagai perkumpulan Wayang Wong; mula-mula dengan status amatir, kemudian menjadi profesional. Perkumpulan Wayang orang yang cukup tua dan terkenal, di antaranya Wayang Orang (WO) Sriwedari di Surakarta dan WO Ngesti Pandawa di Semarang. Wayang Orang Sriwedari merupakan kelompok budaya komersial yang pertama dalam bidang seni Wayang Orang. Didirikan tahun 1911, per­kumpulan Wayang Orang ini mengadakan pentas: secara tetap di `kebon raja’ yakni taman hiburan umum milik Keraton Kasunanan Surakarta.

Patut juga dicatat, peranan masyarakat keturunan Cina di Surakarta dan Malang yang aktif mengem­bangkan kesenian Wayang Wong. Mereka bergabung dalam perkumpulan kesenian PMS (Perkumpulan Ma­syarakat Surakarta) yang secara berkala mengadakan latihan tari dan pada waktu-waktu tertentu mengadakan pementasan untuk pengumpulan dana dan amal. Perkembangan seni Wayang Wong di Surakarta lebih bersifat populer dibandingkan di Yogyakarta. Kreasi seniman Surakarta untuk melengkapi pakaian tari Wayang Wong, mengarah pada `glamour’ dengan kemewahan tata panggung. Untuk pemeran tokoh wayang bambangan seperti Arjuna, Abimanyu, dan sejenisnya, digunakan penari wanita. Sedangkan di Yogyakarta tetap mempertahankan penari pria. Selain itu, Gaya Surakarta cenderung bersifat realis sesuai dengan tingkatan emosi, suasana yang terjadi, dan intonasinya agak bervariasi. Sedangkan untuk gaya Yogyakarta, dialognya cenderung digayakan sedemikian rupa dan mempunyai pola yang monoton.

Wayang Wong Sriwedari

Sejak tahun 2001 nama Dinas Pariwisata berganti nama menjadi Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Diparsenibud) melalui surat keputusan Wali Kota Surakarta nomer 25 tahun 2001. Wayang Wong Sriwedari dalam struktur organisasi Diparsenibud Kotamadya Surakarta dikelola oleh Seksi Pengendalian dan Pelestarian Aset Seni dan Budaya, tanggung Jawab Diparsenibud adalah meliputi dukungan dana pembiayaan produksi gaji seluruh anak wayang dan seluruh staf wayang 15 orang, biaya pembiayaan gedung beserta seluruh fasilitasnya. Dan di bawah Pemerintahan Kotamadya Surakarta, Dinas Pariwisata Kotamadya (1980-sekarang).

Pertunjukan Wayang Wong sebagai produksi seni sudah barang tentu melalui proses pentahapan yaitu perencanaan dan pelaksanaan yang secara struktural proses pentahapan itu dilaksanakan oleh staf produksi mulai dari koordinator, sutradara dan asisten sutradara, ticketting, pengrawit, anak wayang, dan dekorasi, berikut adalah skema dari struktur organisasi Wayang Orang Sriwedari: Diparsenibud, Sub Dinas Pengembangan dan Pengendalian Aset Wisata, Seni dan Budaya Koordinator / pimpinan, sutradara / asisten sutradara, tiketing, anak Wayang, tata busana, dekorasi, pengrawit.

Dewasa selaku pimpinan Wayang Wong Sriwedari mengatakan Wayang Wong juga tercatat Museum Rekor Muri sebagai Organisasi Wayang Wong tertua di Jawa Tengah yang masih aktif, dan Wayang Wong juga pernah mengelar pementasan di Bali, Jerman, dan Eropa Barat.

Bagi masyarakat yang berminat untuk menjadi salah satu para pemain Wayang Wong Sriwedari ini terbilang cukup mudah. Pengurus di sana hanya menetapkan dua hal sebagai syaratnya, yakni; 1) Bisa minimal 3 tarian; 2) Memiliki kemampuan berbahasa yang cukup. Kemampuan berbahasa di sini yang dimaksud adalah kemampuan berbahasa Jawa. Kemampuan berbahasa Jawa yang cukup ini tentunya meliputi bahasa Jawa ngoko, krama,dan krama inggil. Akan lebih bagus lagi kalau-kalau dapat menguasai bahasa Jawa Kuno.

Advertisements

Tradisi Rewang

Tradisi Rewang

Tradisi adalah kumpulan kebiasaan tentang batas kelompok dan tentang pandang dunia, yang biasanya diteruskan kepada orang-orang muda dari suatu masyarakat dalam mempersiapkan mereka akan partisipasi penuh sebagai orang-orang dewasa dalam budaya itu. Transmisi ini berlangsung melalui ritus-ritus inisiasi pada pubertas, melalui sistem-sistem pendidikan, dan melalui pergaulan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi menyediakan perbendaharaan yang nyata, yang dapat diacu guna mempertahankan jati diri bila diancam, dan untuk menegaskannya bila perlu. Karena jati diri bukanlah sesuatu yang sifatnya tampak secara alamiah.

 (Wahyuddin: 118-119)

Continue reading “Tradisi Rewang”

Kesenian Ketoprak dan Perkembangannya

Seni dalam Masyarakat

Aktivitas yang dilakukan manusia pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan di mana mereka berkerja, belajar, bermain, serta berkeseanian. Dalam pandangan orang Jawa, berkesenian bukan hanya sebagai hiburan masyarakat. Namun, Kesenian Jawa sudah masuk ke dalam adat-istiadat dan budaya yang terjadi di masyarakat itu sendiri. Pada konteks tertentu, kesenian berfungsi sebagai pedoman terhadap berbagai prilaku manusia yang berkaitan dengan ekspresi simbolik dan keindahan seni sering menjadi pedoman bagi pelaku, penampil atau pencipta untuk mengekspresikan kreasi artistiknya melalui karya seni. Dalam berapreasi, ekspresi simbolik dan keindahan seni menjadi pedoman kepada penikmatnya untuk mencerap sistem nilai dan makna yang terkandung dalam karya seni. Ekspresi simbolik dan keindahan karya seni menjadi kebutuhan yang kolektif dalam interaksi sosial, sehingga mampu berperan sebagai pengikat sosial serta menumbuhkan solidaritas di kalangan masyarakat.

Fungsi kesenian yang beredar dapat mencakup beberapa bagian sesuai dengan kepentingannya, dapat dibedakan menjadi tiga jenis untuk garis besarnya;

  1. Seni sebagai sarana upacara; hal ini sudah ditemui semenjak kebudayaan pada zaman purba. Pada kesempatan itulah kesenian menjadi simbol kekhidmatan, menghadirkan daya magis kemujaraban. Dalam pelaksanaannya, biasanya upacara tersebut terdapat tari-tarian, bunyi-bunyian, serta berbagai bentuk sesaji. Masyarakat primitif membagi upacara kesenian yang mereka lakukan menjadi tiga bagian, yakni upacara yang berkaitan dengan keagamaan, peristiwa alamiah, dan peristiwa kehidupan manusia. Hal tersebut yang kemudian diadaptasi oleh sebagian masyarakat Jawa dewasa ini, khusnya daerah teritorial Yogyakarta dan Surakarta.
  2. Seni sebagai hiburan atau tontonan tercermin pada kegunaan seni untuk memberi hiburan atau kesenangan atau mengisi waktu luang. Sebagian masyarakat Jawa masih menghubungkan kesenian sebagai hiburan pada acara-acara tertentu seperti pewayangan pada acara nikahan.
  3. Seni sebagai media pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk mencerdaskan masyarakat. Misi pesan untuk mengubah sikap dan perilaku masyarakat diharapkan dapat tersampaikan melalui seni atau dengan seni. Seni sebagai media pendidikan merupakan pembekalan untuk belajar lebih lanjut.

Kesenian Ketoprak

Dalam pertunjukannya kesenian ketoprak menyajikan cerita yang diambil dari kisah kerajaan-kerajaan pada masa lampau. Ketoprak diciptakan oleh RM Wreksoniningrat dari Surakarta pada tahun 1914. RM Wreksoniningrat merupakan seniman yang banyak berkecimpung dalam dunia tari dan wayang orang. Ketoprak terinspirasi oleh masyarakat yang pada saat itu membutuhkan hiburan lebih mengenai pelik kehidupan yang terjadi di sekitar mereka, juga tentang bosannya cerita Ande-Ande lumut dan lain sebagainya yang hanya mereka dengar meluli lisan.

Awal mula berdirinya ketoprak, pemain yang ada merupakan lelaki dikarenakan jalan cerita yang ditampilkan lebih mengarah kepada peperangan, dan pengembaraan. Namun, seiring bertambahnya alur cerita yang bervariasi, pemain wanita lambat laun mulai muncul. Pertunjukan ketoprak merupakan sebuah drama yang diiringi gamelan dan dipentaskan di atas panggung dengan waktu permainan 4 – 6 jam. Dialog yang digunakan ialah bahasa Jawa yang dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni;

  1. Perbincangan antar tokoh raja dilingkungan kerajaan menggunakan bahasa Jawa kromo inggil.
  2. Tokoh raja yang berbicara dengan abdi atau punggawa kerajaannya menggunakan bahasa Jawa ngoko, sedangkan punggawanya akan berbicara menggunakan bahasa Jawa kromo inggil jika ingin berkomunikasi dengan sang raja.
  3. Tokoh rakyat biasa atau abdi dalem akan menggunakan bahasa Jawa ngoko bila berdialog.

Dalam dialog yang diucapkan para pemain, dalam ketoprak lebih berpedoman kepada naskah yang sudah dibuat oleh sutradara. Pada awal berdirinya kesenian ketoprak, hal yang paling diunggulkan ialah seni tarinya dengan sangat sedikit menyelipkan beberapa baris dialog. Tetapi dalam perkembangannya, seni tari yang diunggulkan tetap dipertahankan, namun secara bertahap menambah porsi untuk dialog.

Perjalanan Kesenian Ketoprak

Pada awalnya seni ketoprak hanya dipentaskan di lingkungan kraton saja, sehingga kurang dikenal oleh masyarakat luas pada umumnya. Namun, semenjak tahun 1922, pada masa Kerajaan Mangkunegaran di Surakarta, seni ketoprak kemudian berkembang di wilayah umum. Iringan gamelan yang digunakan pada pementasan ketoprak mulanya sangat sederhana menggunakan gamelan lesung, alu, kendang, dan seruling. Tetapi, karena ketoprak berbeda dengan wayang orang yang cenderung ceritanya sudah pakem1, ketoprak mudah digemari oleh masyarakat karena cerita yang dipentaskan lebih bebas mengenai seputar kehidupan kerajaan. Ketoprak sempat dilarang untuk melakukan pementasan pada tahun 1942 oleh pemerintah Jepang, karena pantun-pantun serta alur ceritanya menyindir tentang pemerintahan mereka.

Seiring berjalannya tahun, seni ketoprak juga mengalami beberapa perubahan, baik bentuk maupun istilahnya;

  1. Periode Ketoprak Gejog atau Lesung pada tahun 1887 – 1908

Periode ini dilansir merupakan awal mula adanya kesenian ketoprak di mana pada waktu itu kala purnama menyapa beberapa pemuda tengah memainkan lesung sambil menari dan melantunkan tembang, lagu-lagu dolanan yang kemudian jadilah seni pertunjukan dengan alur cerita sederhana tentang seputar kehidupan di desa.

  1. Periode Ketoprak Wreksadiningrat pada tahun 1908 – 1925

Periode ini merupakan masa berjayanya ketoprak di Kraton Surakarta. K. R. M. T. H Wreksadiningrat merupakan seorang abdi di dalem sekaligus seniman yang bergelut dalam bidang tari. Setelah memboyong kesenian ketoprak ke dalam kraton, beliau memoles beberapa bagian seperti musik pengiring yang semula merupakan lesung digubah menjadi gamelan, ditambah dengan kendang seruling, dan terbang. Tembang yang tadinya merupakan lagu dolanan anak diganti menjadi sekar alit atau tembang macapat dan sekar tengahan, bisa juga gending-gending yang lebih berbobot seperti mijil pamular, pucung, gambuh, dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan keagungan kraton.

  1. Periode Ketoprak Wrektasama pada tahun 1925 – 1927

Periode ini didirikan pertama kali di luar tembok kraton setelah periode sebelumnya berakhir tanpa ada penerusnya. Pendiri grup, Ki Wisangkara yang ternyata merupakan mantan pemain Ketoprak Wreksadiningrat. Dalam periode ini kesenian ketoprak juga mengalami perubahan di mana musik iring-iringan ditambahi lagi dengan alat musik gamelan yang berupa saron, gitar, biola, mandolin, kenong, kempul, gong, sehingga gamelan pengiring kesenian ketoprak ini lebih lengkap dan lebih bervariasi suaranya. Gending yang dimainkan masih sama, bedanya terdapat pada alur cerita yang sudah berani menampilkan lakon-lakon babad atau kisah berdirinya suatu kerajaan.

  1. Periode Ketoprak Krida Madya Utama pada tahun 1927 – 1930

Grup ketoprak ini menggantungkan hidupnya kepada para penonton. Berbeda dengan grup ketoprak-ketoprak sebelumnya yang menetap disuatu daerah, grup ini secara rutin melakukan perjalan dari satu kota, ke kota yang lain untuk mengadakan pentas. Sejak saat itulah, kesenian ketoprak menjadi terkenal dan memasyarakat di lingkungan pedesaan dan pesisir Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta.

  1. Periode Ketoprak Gardanela pada tahun 1930 – 1955

Pada periode ini kesenian ketoprak kembali mengalami perubahan, dan penyempurnaan. Termasuk alat pengiringnya yang kemudian diganti menjadi gamelan lengkap laras pelog, serta pakaian yang dikenakan para pemain tidak diperbolehkan menyamai aslinya; pakaian kebesaran kraton. Kemudian alur cerita yang dimainkan juga beberapa ada yang diadaptasi dari luar negeri seperti; Sampek Engtay, Johar Manik.

  1. Periode Ketoprak Moderen pada tahun 1955 – 1958

Hal menonjol pada periode ini ialah adanya grup-grup ketoprak kecil di setiap daerah pada masa itu dan semuanya memiliki penggemar sendiri-sendiri.

  1. Periode Ketoprak Gaya Baru pada tahun 1958 – 1987

Seiring berkembangnya ketoprak dari tahun ke tahun, pada periode ini terdapat perlombaan ketoprak yang diikuti beberapa grup ketoprak dari Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

  1. Ketoprak Masa Kini

Pada kurun waktu 1980 – 1990an, kesenian ketoprak tumbuh menjadi ketoprak plesetan. Kesenian yang memiliki pakem agak longgar itu dikemas menjadi pertunjukan yang lebih bebas lagi dalam cerita, dialog, dan tokoh-tokoh yang dimainkan. Kemudian pada tahun 1995an tumbuh kesenian ketoprak yang lebih menonjolkan pada sisi humornya yang dinamakan ketoprak humor. Begitulah sebagian kesenian rakyat, ketoprak memang masih digemari oleh penonton akan tetapi, dengan inovasi-inovasi yang merupakan kepedulian dari masyarakat untuk terus membangkitkan kesenian ketoprak agar bisa berjaya lagi.

Peran dan Fungsi Kesenian Ketoprak dalam Kehidupan Masyarakat

Kesenian ketoprak sebagai media tradisional mempunyai potensi yang besar dalam menyampaikan filosofi terhadap suatu jenis kesenian, karena media ini mempunyai audiensi yang luas dan kredibilitas yang tinggi dimata orang pedesan. Sehingga media tradisional dapat menyampaikan pesan tanpa paksaan kepada masyarakat. Selain itu ketoprak merupakan alat komunikasi dua arah yang sangat berperan dalam aspek bidang ekonomi, budaya dan media komunikasi di masyarakat. Pada dasarnya kesenian ketoprak  memiliki empat fungsi utama, yaitu;

  1. Kesenian ketoprak sebagai fungsi ritual

Seni tradisi pada awalnya bermula dari adanya keperluan-keperluan ritual atau persembahan kepada Yang Maha Kuasa, yang kemudian dianalogikan kedalam suatu gerak, ataupun tindakan-tindakan tertentu dalam suatu upacara ritual di mana secara keseluruhan hal tersebut merujuk kepada persembahan. Fungsi tradisional kesenian ketoprak pada mulanya juga merupakan sarana untuk melakukan upacara ritual yang menjadi prasyarat dalam sebuah acara. Sehingga seni pertunjukan yang ditampilkan di beberapa daerah masih berpijak kepada aturan-aturan tradisi yang berlaku. Karena mereka masih menganggap dengan terlaksananya kesenian ini maka ritual serta permohonan yang diharapkan dapat berjalan lancar, tidak asing bila sebelum pertunjukan dimulai terdapat berbagai macam sesaji.

  1. Kesenian ketoprak sebagai fungsi pendidikan

Tokoh atau lakon dalam kesenian ketoprak beberapa dipakai sebagai panutan bagi para penonton yang menikmatinya. Pada setiap pementasan seni petunjukan ketoprak, para seniman yang mementaskan mempunyai misi yang ingin disampaikan kepada penonton. Misi tersebut dilaksanakan melalui dialog, gerakan serta tarian.

Kesenian sebagai media pendidikan dilakukan melalui transformasi nilai-nilai budaya yang terdapat pada kesenian ketoprak, sehingga para seniman dituntut untuk mampu memberikan pelajaran yang bermakna. Di dalam dialognya juga terdapat mengandung nilai fungsi pendidikan dimulai dari alur ceritanya, serta gerakan-gerakan yang ditampilkan. Yang paling menonjol terdapat dalam penuturan dialognya, di mana para juragan berbicara dalam bahasa ngoko kepada abdinya dan sebaliknya sang abdi berbicara menggunakan bahasa krama inggil kepada juragannya. Hal ini mengajarkan bahwa dalam setiap pembicaraan dengan siapa pun hendaknya selalu tanggap dengan kedudukan masing-masing.

  1. Kesenian ketoprak sebagai media penerangan

Media penerangan dalam hal ini merupakan sindiran-sindiran atau kritik sosial yang dilakukan para pemain terhadap masyarakat. Karena kebanyakan masyarakat menganut paham paternalistik, maka sangat tabu hukumnya jika ingin mengkritik secara langsung, hal ini pula yang menyebabkan seni ketoprak sempat dilarang karena dialognya berisi tentang kritikan terhadap pemerintahan Jepang. Selain kritikan sosial kepada pemerintah, media penerangan yang terkadang disebut dengan pesan pembangunan dapat pula disampaikan sesuai dengan keinginan dengan topik kebersamaan, kesetiaan, kepatuhan, bahkan masukan yang membangun.

  1. Kesenian ketoprak sebagai hiburan atau tontonan

Fungsi ini terlihat dengan jelas mengingat tujuan masyarakat yang hadir memang sengaja untuk menonton, sedangkan kesenian ketoprak disebut hiburan karena pertunjukan ini dikemas dengan ringan, tidak serius dan diselingi dengan lawak, sehingga menjadi hiburan bagi penonton.

Sumber Referensi

Lisbijanto, Herry. 2013. Ketoprak. Yogyakarta; Graha Pustaka.