Wayang Wong Sriwedari

Wayang

Dalam bahasa Jawa, wayang berarti “bayangan”. Sedangkan jika ditinjau dari arti filsafatnya, wayang dapat disebutkan sebagai bayangan atau pencerminan dari sifat-sifat yang ada pada diri manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah dan lainnya. Sebagai alat yang digunakan untuk memperagakan cerita, wayang dimainkan oleh seorang dalang yang dibantu beberapa penabuh gamelan dan satu atau dua orang warangga sebagai vokalisnya. Disamping itu, seorang dalang kadang-kadang juga mempunyai pembantu khusus untuk dirinya, yang bertugas mengatur wayang sebelum permainan dimulai, serta mempersiapkan tokoh-tokoh wayang yang dibutuhkan selama pementasan.

Dalang di sini difungsikan sebagai pengatur jalannya pertunjukan secara keseluruhan. Dialah yang memimpin semua crewnya untuk luluh ke dalam alur cerita yang disajikan. Selain mendalami tentang penanaman tokoh dalam perwayangannya, seorang dalang juga harus mengerti tentang lagu. Dikarenakan, selain isi cerita, keserasian antara dalang dan para crew haruslah ada. Maka, daripada itu kekompakan sangat dibutuhkan.

Ada beberapa batasan yang dimiliki seorang dalang dalam menentukan lakon wayang yang akan dimainkan, beberapa faktor diantaranya ialah; jenis wayang yang dipergunakan sebagai alat peraga; kepercayaan masyarakat sekitarnya, serta keperluan diadakannya pertunjukan tersebut. Salah satu jenis wayang ialah wayang wong atau wayang orang.

Pengertian Wayang Wong

Wayang Wong adalah salah satu jenis teater tradisional Jawa yang merupakan gabungan antara seni drama yang berkembang di Barat dengan pertunjukan wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa. Jenis kesenian ini pada mulanya berkembang terutama di lingkungan kraton dan kalangan para priyayi (bangsawan) Jawa (R.M Soedarsono:1984,1990:4).

Wayang Wong sebuah pertunjukan seni tari drama dan teater yang mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata sebagai induk ceritanya. Wayang Wong yang digolongkan ke dalam bentuk drama seni tari tradisional. Sebutan Wayang berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti bayangan. Wayang Wong adalah sebuah pertunjukan Wayang yang pelaku-pelakunya dimainkan oleh manusia. Seni pertunjukkan Wayang Wong pada masing-masing daerah memiliki gaya tersendiri, baik Surakarta maupun Yogyakarta.

Menilik dari sejarah seni pertunjukan budaya Jawa, mayoritas naskah Wayang Wong dipengaruhi oleh kisah Mahabharata dan Ramayana dari India yang telah berbaur dengan budaya lokal, dengan kisah Mahabharata yang lebih sering digunakan. Mahabhrata memiliki inti cerita seputar konflik antara Pandawa dan Kurawa mengenai sengketa pemerintahan Negara Astina yang puncaknya terjadi pada perang Bharatayudha. Mahabharata mulai populer di Jawa sekitar abad 10 masehi pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh (991-1016 M) dari Kediri. Lalu berkembang semakin populer dalam bentuk Kakawin atau bentuk puisi lawas dengan metrum India berbahasa Jawa kuno. Pencipta kakawin yang paling terkenal adalah Mpu Sedah dalam karya Bharatayudha yang ditujukan sebagai persembahan kepada Prabu Jaya Baya diakhir pemerintahannya. Kisah Mahabharata ini mengilhami terciptanya beragam jenis kesenia daerah jawa seperti seni arsitektur yang terlihat pada candi, seni tari seni lukis, dan pertunjukan. Sumber-sumber Mahabharata diera kerajaan Jawa kuno banyak ditulis di daun lontar yang berisi tentang filosofi-filosofi kehidupan sosio-budaya-politik masyarakat Jawa.

Pertama kali, Wayang Wong itu dipentaskan secara terbatas pada tahun 1760. Namun, baru pada pemerintahan Mangkunegara V pertunjukan Wayang Wong itu lebih memasyarakat, walaupun masih tetap terbatas dinikmati oleh kerabat keraton dan para pegawainya. Pemasyarakatan seni Wayang Wong hampir bersamaan waktunya dengan lahirnya drama tari Langendriyan. Pada masa pemerintahan Mangkunegara VII (1916 -1944) kesenian Wayang Wong mulai diperkenalkan pada masyarakat di luar tembok keraton. Usaha memasyarakatkan kesenian ini makin pesat ketika Sunan Paku Buwana X (1893-1939) memprakarsai pertunjukan Wayang Wong bagi masyarakat umum di Balekambang, Taman Sriwedari, dan di Pasar Malam yang diselenggarakan di alun-alun. Para pemainnya pun, bukan lagi hanya para abdi dalem, melainkan juga orang-orang di luar keraton yang berbakat menari.

Penyelenggaraan pertunjukan Wayang Wong secara komersial baru dimulai pada tahun 1922. Mulanya, dengan tujuan mengumpulkan dana bagi kongres kebudayaan. Kemudian pada tahun 1932, pertama kali Wayang Wong masuk dalam siaran radio, yaitu  Solosche Radio Vereeniging, yang mendapat sambutan hebat dari masyarakat.Wayang Wong juga menyebar ke Yogyakarta. Pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII (1877 -1921) keraton Yogyakarta dua kali mempergelarkan pementasan Wayang Wong untuk tontonan kerabat keraton. Waktu itu lakonnya adalah Sri Suwela dan Pregiwa – Pregiwati. Wayang Wong di Yogyakarta ini disebut Wayang Wong Mataraman.

Pakaian para penari Wayang Wong pada awalnya masih amat sederhana, tidak jauh berbeda dengan pakaian adat keraton sehari-hari, hanya ditambah dengan selendang tari. Baru pada zaman Mangku­negara VI (1881-1896), penari Wayang Wong mengenakan irah-irahan terbuat dari kulit ditatah apik, kemudian disungging dengan perada. Sejalan dengan perkembangan Wayang Wong. terciptalah gerak-gerak tari baru yang diciptakan oleh para seniman pakar tari keraton. Gerak tari baru itu antara lain adalah sembahan, sabetan, lumaksono. ngombak banyu, dan srisig.

Karena ternyata kesenian Wayang Wong mendapat sambutan hangat dari masyarakat, bermun­culanlah berbagai perkumpulan Wayang Wong; mula-mula dengan status amatir, kemudian menjadi profesional. Perkumpulan Wayang orang yang cukup tua dan terkenal, di antaranya Wayang Orang (WO) Sriwedari di Surakarta dan WO Ngesti Pandawa di Semarang. Wayang Orang Sriwedari merupakan kelompok budaya komersial yang pertama dalam bidang seni Wayang Orang. Didirikan tahun 1911, per­kumpulan Wayang Orang ini mengadakan pentas: secara tetap di `kebon raja’ yakni taman hiburan umum milik Keraton Kasunanan Surakarta.

Patut juga dicatat, peranan masyarakat keturunan Cina di Surakarta dan Malang yang aktif mengem­bangkan kesenian Wayang Wong. Mereka bergabung dalam perkumpulan kesenian PMS (Perkumpulan Ma­syarakat Surakarta) yang secara berkala mengadakan latihan tari dan pada waktu-waktu tertentu mengadakan pementasan untuk pengumpulan dana dan amal. Perkembangan seni Wayang Wong di Surakarta lebih bersifat populer dibandingkan di Yogyakarta. Kreasi seniman Surakarta untuk melengkapi pakaian tari Wayang Wong, mengarah pada `glamour’ dengan kemewahan tata panggung. Untuk pemeran tokoh wayang bambangan seperti Arjuna, Abimanyu, dan sejenisnya, digunakan penari wanita. Sedangkan di Yogyakarta tetap mempertahankan penari pria. Selain itu, Gaya Surakarta cenderung bersifat realis sesuai dengan tingkatan emosi, suasana yang terjadi, dan intonasinya agak bervariasi. Sedangkan untuk gaya Yogyakarta, dialognya cenderung digayakan sedemikian rupa dan mempunyai pola yang monoton.

Wayang Wong Sriwedari

Sejak tahun 2001 nama Dinas Pariwisata berganti nama menjadi Dinas Pariwisata Seni dan Budaya (Diparsenibud) melalui surat keputusan Wali Kota Surakarta nomer 25 tahun 2001. Wayang Wong Sriwedari dalam struktur organisasi Diparsenibud Kotamadya Surakarta dikelola oleh Seksi Pengendalian dan Pelestarian Aset Seni dan Budaya, tanggung Jawab Diparsenibud adalah meliputi dukungan dana pembiayaan produksi gaji seluruh anak wayang dan seluruh staf wayang 15 orang, biaya pembiayaan gedung beserta seluruh fasilitasnya. Dan di bawah Pemerintahan Kotamadya Surakarta, Dinas Pariwisata Kotamadya (1980-sekarang).

Pertunjukan Wayang Wong sebagai produksi seni sudah barang tentu melalui proses pentahapan yaitu perencanaan dan pelaksanaan yang secara struktural proses pentahapan itu dilaksanakan oleh staf produksi mulai dari koordinator, sutradara dan asisten sutradara, ticketting, pengrawit, anak wayang, dan dekorasi, berikut adalah skema dari struktur organisasi Wayang Orang Sriwedari: Diparsenibud, Sub Dinas Pengembangan dan Pengendalian Aset Wisata, Seni dan Budaya Koordinator / pimpinan, sutradara / asisten sutradara, tiketing, anak Wayang, tata busana, dekorasi, pengrawit.

Dewasa selaku pimpinan Wayang Wong Sriwedari mengatakan Wayang Wong juga tercatat Museum Rekor Muri sebagai Organisasi Wayang Wong tertua di Jawa Tengah yang masih aktif, dan Wayang Wong juga pernah mengelar pementasan di Bali, Jerman, dan Eropa Barat.

Bagi masyarakat yang berminat untuk menjadi salah satu para pemain Wayang Wong Sriwedari ini terbilang cukup mudah. Pengurus di sana hanya menetapkan dua hal sebagai syaratnya, yakni; 1) Bisa minimal 3 tarian; 2) Memiliki kemampuan berbahasa yang cukup. Kemampuan berbahasa di sini yang dimaksud adalah kemampuan berbahasa Jawa. Kemampuan berbahasa Jawa yang cukup ini tentunya meliputi bahasa Jawa ngoko, krama,dan krama inggil. Akan lebih bagus lagi kalau-kalau dapat menguasai bahasa Jawa Kuno.