Tradisi Rewang

Tradisi Rewang

Tradisi adalah kumpulan kebiasaan tentang batas kelompok dan tentang pandang dunia, yang biasanya diteruskan kepada orang-orang muda dari suatu masyarakat dalam mempersiapkan mereka akan partisipasi penuh sebagai orang-orang dewasa dalam budaya itu. Transmisi ini berlangsung melalui ritus-ritus inisiasi pada pubertas, melalui sistem-sistem pendidikan, dan melalui pergaulan dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi menyediakan perbendaharaan yang nyata, yang dapat diacu guna mempertahankan jati diri bila diancam, dan untuk menegaskannya bila perlu. Karena jati diri bukanlah sesuatu yang sifatnya tampak secara alamiah.

 (Wahyuddin: 118-119)

Continue reading “Tradisi Rewang”

Kesenian Ketoprak dan Perkembangannya

Seni dalam Masyarakat

Aktivitas yang dilakukan manusia pada dasarnya merupakan suatu kebutuhan di mana mereka berkerja, belajar, bermain, serta berkeseanian. Dalam pandangan orang Jawa, berkesenian bukan hanya sebagai hiburan masyarakat. Namun, Kesenian Jawa sudah masuk ke dalam adat-istiadat dan budaya yang terjadi di masyarakat itu sendiri. Pada konteks tertentu, kesenian berfungsi sebagai pedoman terhadap berbagai prilaku manusia yang berkaitan dengan ekspresi simbolik dan keindahan seni sering menjadi pedoman bagi pelaku, penampil atau pencipta untuk mengekspresikan kreasi artistiknya melalui karya seni. Dalam berapreasi, ekspresi simbolik dan keindahan seni menjadi pedoman kepada penikmatnya untuk mencerap sistem nilai dan makna yang terkandung dalam karya seni. Ekspresi simbolik dan keindahan karya seni menjadi kebutuhan yang kolektif dalam interaksi sosial, sehingga mampu berperan sebagai pengikat sosial serta menumbuhkan solidaritas di kalangan masyarakat.

Fungsi kesenian yang beredar dapat mencakup beberapa bagian sesuai dengan kepentingannya, dapat dibedakan menjadi tiga jenis untuk garis besarnya;

  1. Seni sebagai sarana upacara; hal ini sudah ditemui semenjak kebudayaan pada zaman purba. Pada kesempatan itulah kesenian menjadi simbol kekhidmatan, menghadirkan daya magis kemujaraban. Dalam pelaksanaannya, biasanya upacara tersebut terdapat tari-tarian, bunyi-bunyian, serta berbagai bentuk sesaji. Masyarakat primitif membagi upacara kesenian yang mereka lakukan menjadi tiga bagian, yakni upacara yang berkaitan dengan keagamaan, peristiwa alamiah, dan peristiwa kehidupan manusia. Hal tersebut yang kemudian diadaptasi oleh sebagian masyarakat Jawa dewasa ini, khusnya daerah teritorial Yogyakarta dan Surakarta.
  2. Seni sebagai hiburan atau tontonan tercermin pada kegunaan seni untuk memberi hiburan atau kesenangan atau mengisi waktu luang. Sebagian masyarakat Jawa masih menghubungkan kesenian sebagai hiburan pada acara-acara tertentu seperti pewayangan pada acara nikahan.
  3. Seni sebagai media pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk mencerdaskan masyarakat. Misi pesan untuk mengubah sikap dan perilaku masyarakat diharapkan dapat tersampaikan melalui seni atau dengan seni. Seni sebagai media pendidikan merupakan pembekalan untuk belajar lebih lanjut.

Kesenian Ketoprak

Dalam pertunjukannya kesenian ketoprak menyajikan cerita yang diambil dari kisah kerajaan-kerajaan pada masa lampau. Ketoprak diciptakan oleh RM Wreksoniningrat dari Surakarta pada tahun 1914. RM Wreksoniningrat merupakan seniman yang banyak berkecimpung dalam dunia tari dan wayang orang. Ketoprak terinspirasi oleh masyarakat yang pada saat itu membutuhkan hiburan lebih mengenai pelik kehidupan yang terjadi di sekitar mereka, juga tentang bosannya cerita Ande-Ande lumut dan lain sebagainya yang hanya mereka dengar meluli lisan.

Awal mula berdirinya ketoprak, pemain yang ada merupakan lelaki dikarenakan jalan cerita yang ditampilkan lebih mengarah kepada peperangan, dan pengembaraan. Namun, seiring bertambahnya alur cerita yang bervariasi, pemain wanita lambat laun mulai muncul. Pertunjukan ketoprak merupakan sebuah drama yang diiringi gamelan dan dipentaskan di atas panggung dengan waktu permainan 4 – 6 jam. Dialog yang digunakan ialah bahasa Jawa yang dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni;

  1. Perbincangan antar tokoh raja dilingkungan kerajaan menggunakan bahasa Jawa kromo inggil.
  2. Tokoh raja yang berbicara dengan abdi atau punggawa kerajaannya menggunakan bahasa Jawa ngoko, sedangkan punggawanya akan berbicara menggunakan bahasa Jawa kromo inggil jika ingin berkomunikasi dengan sang raja.
  3. Tokoh rakyat biasa atau abdi dalem akan menggunakan bahasa Jawa ngoko bila berdialog.

Dalam dialog yang diucapkan para pemain, dalam ketoprak lebih berpedoman kepada naskah yang sudah dibuat oleh sutradara. Pada awal berdirinya kesenian ketoprak, hal yang paling diunggulkan ialah seni tarinya dengan sangat sedikit menyelipkan beberapa baris dialog. Tetapi dalam perkembangannya, seni tari yang diunggulkan tetap dipertahankan, namun secara bertahap menambah porsi untuk dialog.

Perjalanan Kesenian Ketoprak

Pada awalnya seni ketoprak hanya dipentaskan di lingkungan kraton saja, sehingga kurang dikenal oleh masyarakat luas pada umumnya. Namun, semenjak tahun 1922, pada masa Kerajaan Mangkunegaran di Surakarta, seni ketoprak kemudian berkembang di wilayah umum. Iringan gamelan yang digunakan pada pementasan ketoprak mulanya sangat sederhana menggunakan gamelan lesung, alu, kendang, dan seruling. Tetapi, karena ketoprak berbeda dengan wayang orang yang cenderung ceritanya sudah pakem1, ketoprak mudah digemari oleh masyarakat karena cerita yang dipentaskan lebih bebas mengenai seputar kehidupan kerajaan. Ketoprak sempat dilarang untuk melakukan pementasan pada tahun 1942 oleh pemerintah Jepang, karena pantun-pantun serta alur ceritanya menyindir tentang pemerintahan mereka.

Seiring berjalannya tahun, seni ketoprak juga mengalami beberapa perubahan, baik bentuk maupun istilahnya;

  1. Periode Ketoprak Gejog atau Lesung pada tahun 1887 – 1908

Periode ini dilansir merupakan awal mula adanya kesenian ketoprak di mana pada waktu itu kala purnama menyapa beberapa pemuda tengah memainkan lesung sambil menari dan melantunkan tembang, lagu-lagu dolanan yang kemudian jadilah seni pertunjukan dengan alur cerita sederhana tentang seputar kehidupan di desa.

  1. Periode Ketoprak Wreksadiningrat pada tahun 1908 – 1925

Periode ini merupakan masa berjayanya ketoprak di Kraton Surakarta. K. R. M. T. H Wreksadiningrat merupakan seorang abdi di dalem sekaligus seniman yang bergelut dalam bidang tari. Setelah memboyong kesenian ketoprak ke dalam kraton, beliau memoles beberapa bagian seperti musik pengiring yang semula merupakan lesung digubah menjadi gamelan, ditambah dengan kendang seruling, dan terbang. Tembang yang tadinya merupakan lagu dolanan anak diganti menjadi sekar alit atau tembang macapat dan sekar tengahan, bisa juga gending-gending yang lebih berbobot seperti mijil pamular, pucung, gambuh, dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan keagungan kraton.

  1. Periode Ketoprak Wrektasama pada tahun 1925 – 1927

Periode ini didirikan pertama kali di luar tembok kraton setelah periode sebelumnya berakhir tanpa ada penerusnya. Pendiri grup, Ki Wisangkara yang ternyata merupakan mantan pemain Ketoprak Wreksadiningrat. Dalam periode ini kesenian ketoprak juga mengalami perubahan di mana musik iring-iringan ditambahi lagi dengan alat musik gamelan yang berupa saron, gitar, biola, mandolin, kenong, kempul, gong, sehingga gamelan pengiring kesenian ketoprak ini lebih lengkap dan lebih bervariasi suaranya. Gending yang dimainkan masih sama, bedanya terdapat pada alur cerita yang sudah berani menampilkan lakon-lakon babad atau kisah berdirinya suatu kerajaan.

  1. Periode Ketoprak Krida Madya Utama pada tahun 1927 – 1930

Grup ketoprak ini menggantungkan hidupnya kepada para penonton. Berbeda dengan grup ketoprak-ketoprak sebelumnya yang menetap disuatu daerah, grup ini secara rutin melakukan perjalan dari satu kota, ke kota yang lain untuk mengadakan pentas. Sejak saat itulah, kesenian ketoprak menjadi terkenal dan memasyarakat di lingkungan pedesaan dan pesisir Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta.

  1. Periode Ketoprak Gardanela pada tahun 1930 – 1955

Pada periode ini kesenian ketoprak kembali mengalami perubahan, dan penyempurnaan. Termasuk alat pengiringnya yang kemudian diganti menjadi gamelan lengkap laras pelog, serta pakaian yang dikenakan para pemain tidak diperbolehkan menyamai aslinya; pakaian kebesaran kraton. Kemudian alur cerita yang dimainkan juga beberapa ada yang diadaptasi dari luar negeri seperti; Sampek Engtay, Johar Manik.

  1. Periode Ketoprak Moderen pada tahun 1955 – 1958

Hal menonjol pada periode ini ialah adanya grup-grup ketoprak kecil di setiap daerah pada masa itu dan semuanya memiliki penggemar sendiri-sendiri.

  1. Periode Ketoprak Gaya Baru pada tahun 1958 – 1987

Seiring berkembangnya ketoprak dari tahun ke tahun, pada periode ini terdapat perlombaan ketoprak yang diikuti beberapa grup ketoprak dari Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

  1. Ketoprak Masa Kini

Pada kurun waktu 1980 – 1990an, kesenian ketoprak tumbuh menjadi ketoprak plesetan. Kesenian yang memiliki pakem agak longgar itu dikemas menjadi pertunjukan yang lebih bebas lagi dalam cerita, dialog, dan tokoh-tokoh yang dimainkan. Kemudian pada tahun 1995an tumbuh kesenian ketoprak yang lebih menonjolkan pada sisi humornya yang dinamakan ketoprak humor. Begitulah sebagian kesenian rakyat, ketoprak memang masih digemari oleh penonton akan tetapi, dengan inovasi-inovasi yang merupakan kepedulian dari masyarakat untuk terus membangkitkan kesenian ketoprak agar bisa berjaya lagi.

Peran dan Fungsi Kesenian Ketoprak dalam Kehidupan Masyarakat

Kesenian ketoprak sebagai media tradisional mempunyai potensi yang besar dalam menyampaikan filosofi terhadap suatu jenis kesenian, karena media ini mempunyai audiensi yang luas dan kredibilitas yang tinggi dimata orang pedesan. Sehingga media tradisional dapat menyampaikan pesan tanpa paksaan kepada masyarakat. Selain itu ketoprak merupakan alat komunikasi dua arah yang sangat berperan dalam aspek bidang ekonomi, budaya dan media komunikasi di masyarakat. Pada dasarnya kesenian ketoprak  memiliki empat fungsi utama, yaitu;

  1. Kesenian ketoprak sebagai fungsi ritual

Seni tradisi pada awalnya bermula dari adanya keperluan-keperluan ritual atau persembahan kepada Yang Maha Kuasa, yang kemudian dianalogikan kedalam suatu gerak, ataupun tindakan-tindakan tertentu dalam suatu upacara ritual di mana secara keseluruhan hal tersebut merujuk kepada persembahan. Fungsi tradisional kesenian ketoprak pada mulanya juga merupakan sarana untuk melakukan upacara ritual yang menjadi prasyarat dalam sebuah acara. Sehingga seni pertunjukan yang ditampilkan di beberapa daerah masih berpijak kepada aturan-aturan tradisi yang berlaku. Karena mereka masih menganggap dengan terlaksananya kesenian ini maka ritual serta permohonan yang diharapkan dapat berjalan lancar, tidak asing bila sebelum pertunjukan dimulai terdapat berbagai macam sesaji.

  1. Kesenian ketoprak sebagai fungsi pendidikan

Tokoh atau lakon dalam kesenian ketoprak beberapa dipakai sebagai panutan bagi para penonton yang menikmatinya. Pada setiap pementasan seni petunjukan ketoprak, para seniman yang mementaskan mempunyai misi yang ingin disampaikan kepada penonton. Misi tersebut dilaksanakan melalui dialog, gerakan serta tarian.

Kesenian sebagai media pendidikan dilakukan melalui transformasi nilai-nilai budaya yang terdapat pada kesenian ketoprak, sehingga para seniman dituntut untuk mampu memberikan pelajaran yang bermakna. Di dalam dialognya juga terdapat mengandung nilai fungsi pendidikan dimulai dari alur ceritanya, serta gerakan-gerakan yang ditampilkan. Yang paling menonjol terdapat dalam penuturan dialognya, di mana para juragan berbicara dalam bahasa ngoko kepada abdinya dan sebaliknya sang abdi berbicara menggunakan bahasa krama inggil kepada juragannya. Hal ini mengajarkan bahwa dalam setiap pembicaraan dengan siapa pun hendaknya selalu tanggap dengan kedudukan masing-masing.

  1. Kesenian ketoprak sebagai media penerangan

Media penerangan dalam hal ini merupakan sindiran-sindiran atau kritik sosial yang dilakukan para pemain terhadap masyarakat. Karena kebanyakan masyarakat menganut paham paternalistik, maka sangat tabu hukumnya jika ingin mengkritik secara langsung, hal ini pula yang menyebabkan seni ketoprak sempat dilarang karena dialognya berisi tentang kritikan terhadap pemerintahan Jepang. Selain kritikan sosial kepada pemerintah, media penerangan yang terkadang disebut dengan pesan pembangunan dapat pula disampaikan sesuai dengan keinginan dengan topik kebersamaan, kesetiaan, kepatuhan, bahkan masukan yang membangun.

  1. Kesenian ketoprak sebagai hiburan atau tontonan

Fungsi ini terlihat dengan jelas mengingat tujuan masyarakat yang hadir memang sengaja untuk menonton, sedangkan kesenian ketoprak disebut hiburan karena pertunjukan ini dikemas dengan ringan, tidak serius dan diselingi dengan lawak, sehingga menjadi hiburan bagi penonton.

Sumber Referensi

Lisbijanto, Herry. 2013. Ketoprak. Yogyakarta; Graha Pustaka.